Kubah Masjid Nurul Iman Kota Padang

Provinsi Sumatera Barat yang beribu kota Padang, adalah salah satu provinsi di Indonesia yang di anugerahi banyak keindahan alam yang luar biasa serta adat istiadat yang begitu kental dengan Syariat Islam nya. Elemen Masyarakat di ulayat Minangkabau ini secara tradisi dari turun temurun mewarisi dan mewariskan falsafah “hidup bersanding adat, adat bersanding Syara’, Syara’ Bersanding Kitabullah”. Dan akhirnya tak mengherankan bila seantero tanah di minangkabau bertabur Masjid dan surau, dari pusat kota Padang hingga ke pusat pertanian di tengah pesawahan akan dengan mudah ditemui masjid ataupun surau.

Masjid Nurul Iman Kota Padang

Di kota Padang sendiri terdapat cukup banyak masjid, salah satunya adalah Masjid nurul iamn. Masjid Nurul Iman adalah Masjid terbesar saat ini berada di kota Padang. Jual Kubah  Masjid Galvalum Murah Dan Berkualitas. Mendapat Gelar sebagai masjid terbesar di kota Padang,sepertinya masjid ini akan segera berakhir tatkala nantinya masjid yang bernama Mahligai Minangkabau yang sekarang ini masih dalam tahap pembangunan dan menantikan selesainya pembangunan itu.

Era awal pembangunan

Sejarah dari Masjid Nurul Iman di Kota Padang ini sangat berliku liku mulai dari pertama didirikan hingga akhinya sempat beberapa kali mengalami kerusakan yang parah hingga nyaris hancur,dan pada akhirnya berevolusi membuat masjid ini ke bentuk yang kini kita lihat begitu indah dan megah serta menjadikan salah satu ikon di kota Padang.

Pembuatan masjid Nurul Iman telah dimulai sejak  tanggal 26 September tahun 1958 dengan Kepala Operasi Kodam III/ tanggal 17 Agustus, ketika itu Provinsi di Sumatera Barat dibawah kepemerintahan Gubernur Kaharudin Datuk Rangkayo Baso yang menjabat dari tahun 1958~1965,dan juga sumbangan dana dari para Menteri agama saat itu. Di butuhkan Tanah untuk membangun  masjid ini  dengan luas sekitar 1,18 hektar dan bangunan masjid nya sendiri berlantaikan dua dengan masing-masing seluas 2.674 M2 dan berada tepat di jantung kota Padang.

Masa Orde Lama

Sepanjang tahun di masa orde lama, pembangunan masjid ini berjalan sangat lamban sampai akhirnya sempat ter­bengkalai. Dan Baru pada tahun 1966 Paska Gerakan 30 September/PKI, pembangunan masjid ini telah dibantu oleh pemerintah. Dan sejak itu di saat Gubernur berikutnya Harun Zain  Menjabat dari tahun 1967~1977 bisa sedikit lebih nyaman dan bisa melanjutkan pembangunan Masjid Nurul Iman. Nama masjid ini pun sudah berganti jadi Nurul Iman. Nama ini ditetapkan yang termuat dalam SK Gubernur Sumbar No Kemasj.025/GSB/66 tanggal 10 Maret 1966.  Penyelesaian pembangunan masjid ini ketika  itu telah menghabiskan biaya sekitar Rp. 300 juta,dan selain dari dana yang berasal dari jemaah masjid ini juga mendapat uluran tangan dari pemerintah. Presiden Soeharto yag kala itu menjabat telah mengirimkan sumbangan sekitar Rp 40 juta untuk membantu pembangunan masjid ini.

Dihajar Ledakan Bom

Pada Tahun 1976 masjid ini sudah mendekati penyelesaian tahap akhir dan sudah bisa difungsikan untuk ibadah sholat jum’at, meskipun proses penyelesaian tahap akhir masih terus dilanjutkan. Ketika  dua tahun kedepan masjid yang sudah menjad ikoni kebanggaan Masyarakat kota Padang ini lagi lagi mengalami nasib yang buruk.

Ketika pada tanggal 11 November tahun 1976 pukul 22.20 tepat di malam hari, sebuah ledakan bom telah merusak bangunan masjid ini. Berdasarkan keterangan dari bagian pihak keamanan yang di pimpin oleh pasukan yang dibawahi oleh Pangkomkamtib Sudomo,disebutkan bahwa Imzar Zubil, dari Komando Jihad yang akan bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Masih menurut pihak keamanan, bom tersebut sepertinya sudah di atur untuk meledak ketika pelaksanaan ibadah sholat Jum’at ke-esokan harinya, namun bom tersebut meledak lebih dini, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

Arsitektur dan Aktivitas Masjid Nurul Iman Padang

Masjid Nurul Iman yang kini berdiri merupakan bangunan yang lahir dari proses renovasi total dan diresmikan di masa kepemerintahan dari Gubernur Gamawan Fauzi. Bangunan masjid modern ini berarsitektur masjid universal dengan ciri bangunan mempunyi Kubah yang sangat besar dan di bangunan utama masjid dan telah dilengkapi dengan sebuah bangunan menara yang terpisah dari bangunan utama masjid.

Masjid Nurul Iman Padang, terdiri dari dua buah lantai,yang di sangga 30 tiang, dan 16 tiang diantaranya adalah tiang penyangga utama yang berada di tengah bangunan masjid.  Tidak hanya Bangunannya yang kokoh, Masjid Nurul Iman juga memiliki konsep nilai seni dan artistik tinggi. Konsep model bangunan Masjid Nurul Iman diambil dari konsep model Bangunan Jakarta Islamic Center (JIC), dipadu dengan arsitektur Masjid Atiin di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

 

Masjid Istiqlal Jakarta

Masjid Istiqlal Jakarta

Di tahun 1953, tepatnya setelah kemerdekaan Indonesia, para tokoh Islam berkumpul untuk menciptakan ide untuk mendirikan sebuah masjid. Nampak saat itu tokoh-tokoh Islam seperti, Wahid Hasyim, Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan berbagai elemen masyarakat lainnya sedang berkumpul dengan tujuan utama mendirikan masjid sebagai simbol kemerdekaan RI.

Setahun kemudian, tepatnya tanggal 7 Desember 1954, dibentuklah yayasan yang difungsikan sebagai panitia pendirian masjid. Sebelumnya, telah disepakati nama istiqlal sebagai nama masjid, yang dalam literatur bahasa Arab memiliki arti kemerdekaan.

Masjid Istiqlal Jakarta

 Masjid Istiqlal ini kemudian mendirikan sebuah yayasan yang nantinya akan membuat  sayembara untuk mendapatkan desain yang ideal untuk masjid ini yang mampu merepresentasikan kemerdekaan Indonesia. Sayembara yang dilakukan di tahun 1955 itu sudah mengumpulkan sebanyak kurang lebih sekitar 30 peserta, namun hanya 27 peserta yang menyertakan gambar. Setelah diseleksi lagi, terkumpul lagi 22 peserta yang memenuhi syarat. Dari 22 peserta inilah kemudian yang dipilih hanya 5 yang terbaik. Akhirnya pilihan jatuh ke tangan seorang arsitek berdarah Batak bernama Frederich Silaban. Menariknya, Frederich Silaban justru adalah seorang penganut agama Kristen.

Pembangunan masjid Istiqlal ini memakan waktu sekitar 17 tahun lamanya. Pembangunan masjid ini terhitung sejak tahun 1961 pada saat pemerintahan Sukarno dan selesai di tahun 1978 di era kepemimpinan Soeharto. Secara umum, Masjid Istiqlal ini berdiri di atas lahan seluas 9,5 Hektar. Dan Luas tersebut meliputi bangunan utama masjid, taman, tempat parkir, dan kolam air mancur. Bangunan masjid itu sendiri terdiri dari beberapa bagian, antara lain gedung utama, gedung pendahuluan, teras raksasa, menara, dan lantai dasar.

Lantai utama Masjid Istiqlal mampu menampung banyaknya jamaah hingga mencapai 16.000 orang. Sementara itu, pada sisi kanan, kiri, dan belakang  masjidterdapat lantai bertingkat 5 yang mampu menampung jamaah hingga mencapai 61.000 orang. Pada bagian lantai utama masjid terdapat 12 pilar, jumlah tersebut mewakili tanggal lahir nabi Muhammad SAW yakni 12 Rabi’ul Awwal. Keberadaan pilar tersebut yang nantinya akan menyangga kubah utama masjid dan mempunyai diameter sepanjang 45 meter dan di tujukan sebagai pengingat tahun kemerdekaan RI. Pada sisinya tertulis ayat kursi dan surat Al-Ikhlas.

Bagian depan lantai utama masjid ini telah dihiasi dengan marmer dan kaligrafi. Sementara bagian kiri dan kanannya terdapat lafadz Allah dan Muhammad.Di Bagian ruan yang lain yaitu di bagian tengah, termuat kaligrafi bertuliskan dua kalimat syahadat, tepat di bawahnya terdapat mihrab dan mimbar yang biasa digunakan saat pelaksanaan ibadah shalat Jum’at maupun shalat Ied. Di bagian belakang masjid terdapat lantai utama yang masuk ke dalam bagian gedung induk dan  terdapat gedung pendahuluan, gedung ini sangat berfungsi sebagai penghubung antara lantai bawah dan lantai atas.

Gedung pendahuluan juga difungsikan untuk ibadah, Bagian ini mampu menampung jamaah hingga 8000 orang. Ada sesuatu yang  menarik,  yaitu bagian gedung juga dilengkapi dengan kubah berdiameter sepanjang 8 meter, yang mengingatkan jamaah akan bulan kemerdekaan Indonesia.

Salah satu bagian masjid yang menjadi tempat favorit bagi anak-anak adalah teras raksasa. Di Masjid ini terdapat teras yang mempunyai luas lebih dari 19.000 meter persegi yang juga difungsikan untuk sholat ketika lantai utama dipenuhi jamaah. Di teras ini sering diadakan berbagai kegiatan masjid, seperti latihan manasik haji bagi anak-anak dan muhasabah tilawatil quran.

Dari teras raksasa akan terlihat menara masjid yang mempunyai tinggi 6.666 cm. Jumlah Angka ini diambil dari jumlah ayat suci yang terdapat pada Al-quran. Di awal pembangunannya, fungsi menara digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan. Namun, saat ini fungsi tersebut hilang, dan berubah menjadi tempat pengeras suara agar gema adzan terdengar ke sekitar masjid. Di sudut bagian puncak menara ini terbuat dari baja tahan karat seberat 28 ton dengan tinggi mencapai 30 meter. Bentuk menara sengaja dibuat berlubang-lubang dengan tujuan untuk mengurangi tekanan dan hembusan angin.

 

 

 

Kubah Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah

Adalah Masjid yang berlokasi di jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang Jawa Tengah. Masjid ini di bangun sangat megah dengan luas lahan mencapai lebih dari 10 Hektar dan luas bangunan induk untuk ibadah shalat mencapai 7.669 meter persegi.Masjid  tersebut bargaya arsitektur perpaduan antara Jawa, Jawa Tengah dan Yunani. Dilengkapi dengan 6 buah payung elektrik ukuran besar yang dibuka jika jemaah sholat cukup banyak.

Kubah Masjid Agung Jawa Tengah

Arsitektur bangunan Masjid Agung Jawa Tengah sendiri merupakan perpaduan antara budaya lokal dengan budaya Arab.

Hal ini terlihat sangat jelas dengan adanya 6 buah payung hedrolik raksasa yang mirip dengan payung di Masjid Nabawi. Jual Kubah Masjid Galvalum Murah Dan Berkualitas.  Payung raksasa ini akan dibuka pada saat Sholat Jumat, Idul Fitri atau Idul Adha dengan catatan kekuatan angin tidak melebihi 200 knot. Jadi apabila saat kamu Sholat Jumat di Masjid Agung Jawa Tengah tapi payung tidak terbuka, mungkin kekuatan angin sedang melebihi 200 knot.

Masjd Agung Jawa Tengah atau biasa di singkat MAJT adalah salah satu landmark yang ada di Jawa Tengah, khususnya Kota  Semarang. Meski baru diresmikan di tahun 2006, sejarah masjid ini sangat  berkaitan dengan pemimpin pertama di Semarang.

Usut punya usut, masjid yang megah ini berdiri di atas tanah seluas 119 hektar dan dibangun di atas tanah wakaf Ki Ageng Pandanaran II, Bupati Semarang pertama.

Ketua Bagian Kepegawaian Masjid Agung Jawa Tengah, Benny mengatakan bahwa seusai Ki Ageng Pandanaran II menjadi Bupati Semarang, ia mewakafkan ratusan hektar tanahnya sebagai wakaf produktif pada masjid-masjid. Sampai pada suatu saat tanah tersebut telah ditukar guling oleh beberapa perusahaan besar multinasional kepada investor luar negeri.

Sontak masyarakat yang tahu tak tinggal diam. Dan pada tahun 1990 akhir hingga tahun 2000 awal, mereka tetap mendesak kepada pemerintah untuk mengembalikan lagi hak ratusan hektar tanah yang masih tersebar lokasinya dan juga pemiliknya.

Tak hanya warga setempat yang mendesak,namun juga Mantan Gubernur Jawa Tengah yaitu Mardiyanto yang mengatakan bahwa “tanah-tanah itu diselesaikan hak kepemilikannya dan yang terbanyak di daerah Gayamsari, maka dibuatlah Masjid Jawa Tengah yang lengkap ini”

Kemudian pada tahun 2002 di mulailah pembangunan dengan peletakan batu pertama sebagai rasa syukur terhadap kembalinya tanah wakaf. Setelah itu, pemangunan selesai pada tahun 2006 sebelum diresmikan oleh Presiden Indonesia ketujuh, Susilo Bambang Yudhoyono.

Sampai sekarang masjid ini termasuk  masjid yang memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Karena selain untuk beribadah, masjid ini juga menjadi sarana rekreasi wisata, dengan dilengkapi museum, convention centre, office centre, kafe, hingga hotel.

Terlepas dari bangunan utama Masjid, di sisi samping kanan Masjid Agung Jawa Tengah terdapat Auditorium yang dapat menampung kurang lebih 2.000 orang. Auditorium ini biasa digunakan untuk acara pameran atau pernikahan.

Sedangkan di bagian sebelah kiri terdapat ruang Perpustakaan dan ruang Perkantoran yang disewakan untuk umum. Tak sampai di situ saja, ketika kita pertama kali memasuki area luar Masjid Agung Jawa Tengah ini, kita akan melihat sebuah menara yang menjulang tinggi. Menara tersebut bernama Menara Asmaul Husna, sesuai namanya, Menara Asmaul Husna memiliki ketinggian mencapai 99 meter.

 

Bentuk Kubah Masjid Galvalum Jam’ Tuhfaturroghibin.

Bentuk Kubah Masjid Galvalum Jam’ Tuhfaturroghibin.

Bentuk Kubah Masjid Galvalum Jam’ Tuhfaturroghibin.

Kubah Masjid Galvalum Yang indah di Masjid Jami’ Tuhfaturroghibin, di pagi yang cerah ini dan keadaan yang sehat walafiat. Oke,di artikel ini masih membahas di seputar beberapa Kubah masjid Galvalum di wilayah indonesia. Pada kesempatan kali ini masjid yang kita bahas yaitu Masjid Jami’ Tuhfaturroghibin dari Banjar,Kalimantan.

Nama Populer Masjid Jami’ Tuhfaturroghibin

Masjid Jami’ Tuhfaturroghibin atau dengan nama populer adalah Masjid Kanas. Masjid Kana merupakan Masjid bersejarah yang terletak dilokasi dikawasan Alalak Tengah,Banjarmasin,Kalimantan Selatan. Masjid Kanas ini mempunya ciri khas karena terrdapat hiasan buah nenas disekitar masjid tersebut. Lantaran Berarsitektur Timur Tengah campur banjar,Sekilas masjid ini mirip dengan Masjid Jam’ sungai jingah. Masjid Kenas ini Juga menjadi sebuah kebanggan diWarga Alalak,warga yang berasal asli Banjar.

Dalam sejarah,masjid yang sering disebut masjid kenas ini didirikan pada 11 Muharram 1357 Hijriyah. Dalam didirikan masjid ini tak lepas dari perjuangan seorang ulama Alalak, H. Marwan bin H.M Amin. H.Marwan dikenal sebagai ulama sufidan konon cerita dari warga sekitar beliau merupakan keturunan ke-4 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari atau Datuk Kelampyan. Atas Jasa Beliau ulama Alalak. Masjid Kenas ini hingga sekarang masih mempertahankan keasliannya empat soko gurunya tetap berdiri Kokoh.

`           Pada Awalnnya, Masjid Jami’ ini tidak berlokasi diAlalak Tengah. Dahulu,sebelum dibangun Masjid jami’ ini sempat didirikan diDesa Tatah Masjid, Alalak, Barito Kuala.  Dari sinilah nama Masjid jami’ ini dikenal dengan Masjid Kanas Memiliki Harga Kubah Galvalum yang murah tetapi tdak murahan. Karena jumlah jamaah terus bertambah dan akses menuju Masjid Kanas itu dianggap sulit, akhirnya seluruh tokoh         dan masyarakat Alalak. Pada saat itu, Menyepakati memindahkan masjid dari desa Tatah Masjid ke Alalak tengah. Awalnya, lokasi masjid baru itu merupakan areal pemakaman dtepian Alalak. Dan Bahkan,Ketika itu lokasinya dipenuhi rumputan liar dan tumbuhan perdu,serta beberapa pohon mangrove.

Lokasi Asal Masjid Jami’ Tuhfaturroghibin

Lokasi pemindahan masjid Jami’ ini sangat tepat yang berada dpertigaan arus sungai, arah Marabahan, Kapuas dan Muara Kuin (Barito). Diceritakan, saat pemancangan tiang utama masjid inilah yang membikin decak kagum warga Alalak. Pasalnya, Kayu ulin yang begitu besar dan panjang bisa didirikan hanya dengan dua bilah bambu. Perlengkapan yang digunakan juga masih sederhana. Saat pendirian kayu ulin, hampir semalam suntuk H. Marwan Mengelilingi masjid atau bisa disebut dengan “tawaf”. Dengan ritual khusu dan dbantu alat takal dan bambu, Kayu ulinnya sebagai soko guru pun bisa didirikan secara tegak dan Proses pembangunan masjid pun langsung dimulai.

Dahulu Masjid Kanas ini tidak berkubah bulat tetapi berbentuk limas lancip. Setelah ada perubahan desain akhirnya bentuk dari Masjid Kanas itu identik dengan Masjid jami sungai Jingah.Lantai masjid diambil dari pasir  Di Pulau Kembang yang dipadatkan dan diberi lampit Rumbia. Sejak Berdiri,perubahan nama Masjid Kanas menjadi Masjid Jami’ Tuhfatarrughibin adalah mengutip nama kitab dengan Datuk Kalampyan Sekitar awal tahun 1980-an.

Masjid Jami’ tersebut pernah hampir mengalami kebakaran yang membakar sebagian masjid tersebut. Masjid Kanas ini terkesan unik. Yang memiliki kubah bulat dan terlihat memiliki perundakan.Tiang utama memiliki kayu ulin berdiameter 40 X 40 meter. Kanas diambil dari bahasa arab yang berarti yaitu “Pembersih”. Pada masa pendudukan jepang. Masjid Kanas termasuk masuk tertua keempat, setelah Masjid Sultan Suriansyah, Masjid Agung Al-Karomah Martapura, dan Masjid Jami’ Sei Jingah. Masjid ini telah beberapa kali mengalami perbaikan dan rehabilitasi. Nama “Tuhfaturroghibin” pun sebagai nama resmi Masjid ini yang diambil dari buku karangan ulama besar Syekh Muhammad Arsyad al Banjari.  Untuk Lebih Lanjutnya Silahkan Ke Kubah Masjid Galvalum.

Masjid Agung Al Barkah Bekasi

Masjid Agung Al Barkah Bekasi

Masjid Agung Al Barkah Bekasi

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,selamat datang diblog saya, di pagi yang cerah ini yang sehat walafiat. Kali ini masih membahas di seputar kubah Masjid Galvalum di wilayah indonesia. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas sebuah masjid yang yang terletak di bekasi.

Masjid Tertua DiIndonesia

Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di indonesia. Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama ketika kota bekasi menjadi tuan rumah MTQ Jawa Barat pada  tahun 1998, direnovasi kembali pada 2002. sampai kemudian menjadi itulah sekarang ini setelah melalui renovasi dari 2004-2005. Masjid agung Al-Barkah kota Bekasi berada di jalan Veteran kawasan sekitar alun-alun pusat pemerintahan kota Bekasi Jawa Barat. Lokasi Masjid ini berseberangan dengan rumah sakit daerah kota bekasi.

Masjid Agung Al-Barkah kota Bekasi dibangun tahun 1890 dipelopori oleh penghulu langit almarhum haji abdul hamid di atas tanah wakaf dari baron seluas 3000 m2. Bangunan belum mencairkan bangunan sebuah Masjid pada umumnya. Tahun 1967 bangunannya dilihat menjadi bentuk Masjid oleh Bupati Bekasi Shubandi ketika itu kota Bekasi masih menjadi bagian dari kabupaten Bekasi. Shubandi yang merupakan Bupati Bekasi pertama asal kampung gabus Kabupaten Bekasi itu,  bagian setiap warga Kabupaten Bekasi turut berpartisipasi menyumbang pembangunan Masjid ini.

Dalam kemajuan yang telah terjadi di tahun 1985 Masjid tersebut kembali dilakukan pembangunan oleh Bupati Bekasi H. Abdul Fatah bangunannya pada bagian depan masih menggunakan angin berwarna-warni yang saat itu sangat banyak diminati masyarakat dalam setiap melaksanakan pembangunan dan saat itu pula lah Masjid tersebut ditetapkan menjadi Masjid Agung Al Barkah Kabupaten Bekasi.

Dengan ditetapkannya sebagai Masjid Agung di Kabupaten Bekasi pemerintah daerah Kabupaten Bekasi mulai ikut campur tangan dalam pembangunannya. Penggunaan pada tahun 1985 menghabiskan biaya kurang lebih 225.000.000. Pada 1997 pemerintah kabupaten Bekasi saat bupatinya dijabat Muhammad Zamri kembali melakukan pembangunan dengan tambahan biaya kurang lebihnya 100.000.000. Persiapan pembangunan Masjid Agung Al-Barkah kota Bekasi ini mulai dilakukan tahun 2003 dengan penataan ulang tata ruang alun-alun, jalan dan fasilitas yang ada. Masjid dirancang dengan lebih modern namun tetap mencirikan arsitektur timur tengah masjid ini juga dapat dimanfaatkan sebagai area publik rumah di mana orang bisa ibadah dan menikmati pesona taman kota. Ada keinginan dari walikota saat itu untuk menghadirkan sebuah masjid agung yang presentatif dan menjadi ikon kota Bekasi.

Pada saat kota Bekasi terbentuk tahun 1997 dan terpisah dari kabupaten Bekasi di zaman walikota dijabat H. Ahmad Faiz yang merupakan putra asli bekasi, Perhatian pemerintah daerah semakin besar dalam pembangunan Masjid yang kini menjadi ikon kota Bekasi dan mulai tahun 2004 hingga 2008 pembangunan Masjid Agung Al-Barkah Bekasi ini dengan skala besar.

Arsitektur dari masjid Agung Al-Barkah Bekasi ini mengadaptasi Masjid timur tengah yang di sublimasi dengan unsur tropis. Jadi rumah Masjid di timur tengah tidak mengenal teras atau kanopi karena iklim indonesia tropis rumah masjid membutuhkan kantilever dan kanopi agar air hujan tidak tampias ke dalam masjid makanya kemudian masjid itu dilengkapi dengan teras.

Dalam Masjid Al-Barkah Bekasi ini ada 8 daun pintu yang mencerminkan 8 pintu menuju surga pintu tersebut terbuat dari kayu jati dari jepara yang berukiran kaligrafi. Kubah masjid memiliki diameter 18 meter dan di bawahnya bertuliskan 99 asmaul husna. Tiang pada masjid tersebut dilapisi kayu untuk memberi kesan hangat. Ini diadopsi dari Masjid Agung Demak yang dibuat dari kayu. Masjid agung al-barkah kota bekasi ini juga dilengkapi tempat thoharoh, Gedung pertemuan dan tempat majelis taklim, perpustakaan, kantor takmir dan kantor remaja masjid rumah taman plaza medan area parkir.

Arsitektur masjid tidak lepas dari simbolisasi islam, setiap detail bangunan memiliki arti simbolisasi islam bisa kita jumpai pada 4 buah menara yang memiliki arti empat tiang ilmu yakni meliputi bahasa arab rumah syariah koma sejarah dan filsafat. Tiga bagian bentuk dasar bangunan menara mencerminkan iman islam dan ihsan dan ketinggian menara 35 meter diambil dari salah satu surat al quran